"Maafkan aku, sungguh aku
sangat terpaksa melakukan hal ini. Kelak, ketika engkau telah tiba pada suatu
tempat, di mana Tuhan kita membuang Adam, saat engkau telah tumbuh dewasa, maka
engkau akan tahu betapa tidak bergunanya mata. Sebab, pada saat itu orang-orang
tak dapat lagi membedakan, tak dapat lagi menilai. Pada saat itulah, sayang,
aku akan datang padamu dan mengembalikan matamu. Untuk sementara lahirlah tanpa
mata, biarkan matamu aku bawa, akan selalu aku doakan ia, agar kelak saat aku
mengembalikannya padamu, ia mampu membedakan segala sesuatu. Maka pada saat itu
engkau harus bersiap menjadi seseorang yang paling terasing". KATA
ibu, aku dilahirkan pada sebuah rumah yang mewah, milik kakek dari ayahku.
Sebelum aku dilahirkan, kehidupan mereka selalu menyenangkan, penuh canda tawa
dan suasana yang sangat intim.
Terlebih ketika ibuku mengandung
aku, setelah hampir tujuh tahun ibu mengalami masa menunggu yang mendebarkan.
Kakek dan nenek selalu memanjakan ibuku, sebab ibuku adalah istri dari anak
semata wayangnya, dan sudah barang tentu mereka mengharapkan ayah dan ibuku
memberikan seorang cucu untuk melestarikan keturunan mereka. Setiap hari ibu
dilayani layaknya seorang putri, bahkan makan pun nenek yang menyuapinya.
Setiap sore, mereka semua duduk di teras rumah, memutarkan musik Mozart, agar
kelak bayi yang ada dalam kandungan ibu menjadi anak yang pandai. Kakek
mengupaskan buah-buahan untuk ibu, sampai ayah pulang dari kantor dan memarahi
kakek dan nenek, sebab menurut ayah tak baik seorang yang tengah hamil di luar
rumah saat menjelang petang.
Pada saat usia kandungan ibu berumur
tujuh bulan, rumah mewah itu menjadi benar-benar ramai, akan diadakan acara
tujuh bulanan. Kata ibu, ia dirias sangat cantik, dengan gaun yang mewah dan
sandal jinjit yang tinggi. Tetangga-tetangga dekat diundang, juga seorang ulama
yang tak jauh dari rumah kakek. Semua undangan duduk dengan tenang, dengan
sesekali menyeruput minuman dan menyantap kue-kue yang telah dihidangkan. Tak
lama kemudian terdengar suara orang mengaji yang sangat indah. Semua orang yang
ada dengan serentak diam, menghentikan percakapan mereka. Setelah pembacaan itu
selesai, kakek memberi sambutan pada segenap tamu, mengucapkan terima kasih
karena mereka menyempatkan waktu mereka yang sangat padat dengan bermacam
agenda kerja untuk datang dalam acara yang membahagiakan itu.
Dari dalam kamar, di mana ibu tengah
dirias, terdengar suara kakek yang tengah memberi sambutan. Kemudian nenek
membawa ibuku turun menemui para undangan, sebab setelah sambutan dari kakek
akan ada acara siraman rohani yang disampaikan oleh ustadz yang telah diundang,
tentang bagaimana cara mendidik anak-anak yang diajarkan agama. Semua tamu
terkesiap saat ibuku turun dari tangga dan menuju ke arah mereka. Sayang
sekali, terkesiap itu tidak berlangsung lama, sebab kaki ibu terkeseok dan
jatuh terguling dari tangga.
Semua orang yang ada saat itu secara
serentak menjerit. Selangkangan ibu mengeluarkan darah. Ayah, kakek, dan nenek
bergegas membawa ibu ke rumah sakit, dengan sebuah mobil. Sejak kejadian
itu, rumah menjelma sebagai sirkus orang-orang yang pucat, kesedihan tergaris
pada kening ayah, kakek, dan nenek, membuat ibu mengalami ketegangan yang tak
dapat ditawar. Dan pada sebuah malam, saat ayah dan ibu duduk berdua di kamar,
dengan nada dasar yang sangat berat, ibu bertanya pada ayah perihal apa yang
membuat keluarga yang sebelumnya menyenangkan itu menjadi seperti ruangan para
pidana yang cemas menunggu eksekusi.
Dengan suara yang menggetarkan,
seperti suara dari negeri yang entah ada di mana, ayah memberi tahu ibu : bahwa
bayi yang tengah ibu kandung, sebab kecelakaan itu, jika kelak terlahir akan
menjadi bayi yang cacat. Bayi yang sama sekali tidak memiliki kesempatan untuk
tahu apa dan bagaimana ayah dan ibunya, bagaimana rupa dunia. Ibu seperti
dilemparkan pada sebuah ruangan yang setiap sudutnya memancarkan sinar laser,
yang jika tersentuh sedikit saja maka ia akan hancur. Ibu merasakan sinar itu
kian mendekat, membangun sebuah ruang yang menyekatnya untuk menemui ayah,
kakek, dan nenek.
Ruangan itu meredamkan setiap apa
saja yang dikatakan ibu, tidak memberi kesempatan pada ibu untuk sekadar
berkata maaf, tak mampu membahagiakan mereka. Hingga pada suatu malam, sinar
merah itu memaksa ibu untuk keluar, untuk keluar, dan meninggalkan semuanya,
rumah, keluarga dan segala sesuatu yang ada di rumah kakek. Ibu pergi
tanpa mampu membawa apa pun, selain telepon genggam yang masih sempat ia bawa,
saat sinar merah itu menyerang. Dari telepon genggam itulah ibu tahu bahwa ayah
dan semua yang ada di rumah kakek mengalami cemas yang akut, mereka selalu
berharap agar ibu kembali ke rumah itu.
Mereka akan menerima kejadian itu
dengan apa adanya, bahkan kata kakek dalam sebuah pesan singkatnya : jika kelak
bayi yang dilahirkan ibu sudah menginjak dewasa, ia akan mengoperasi matanya
agar dapat melihat. Namun ibu membalasnya dengan sangat singkat : maafkan aku
yang tak dapat memberi kebahagiaan. Hanya itu, sebab ibu segera menjual
teleponnya untuk ongkos kepergiannya. Sebuah kepergian untuk menepi,
meninggalkan sesuatu bukan untuk mencari sesuatu. Ibu kemudian memelukku
dengan erat.
Aku merasakan ada sesuatu yang
terjatuh dan dingin dari matanya. Dengan kemurungan yang tak dibuat-buat, ia
meminta maaf padaku karena tak dapat memberi kebahagiaan. Selalu kata-kata itu
yang aku dengar setiap kali aku pulang dengan bersedih sebab ejekan teman-teman
sepermainanku. *** AKU tumbuh menjadi seorang lelaki yang tak banyak
tahu tentang dunia luar, tentang apa dan bagaimana ibuku bekerja keras untuk
membiayai kehidupan kami. Aku hanya tahu dari ibu bahwa di luar sangat tidak
menyenangkan, lebih baik di kamar saja. Dan saat aku bertanya padanya kenapa
ibu seringkali keluar, padahal di luar tengah rusuh, maka dengan membelai
rambutku dengan kasih sayang yang sesungguhnya, ia akan menjawab : itu semua
ibu lakukan untuk membiayai kehidupan kita. Kalau ibu tidak keluar, maka kita
mau makan apa.
Sebagai seorang yang berkembang
sebagaimana mestinya, aku juga memiliki rasa keingintahuan yang besar tentang
apa yang terjadi di luar. Maka pada suatu sore, saat ibuku belum pulang dari
bekerja, aku mencoba keluar dari rumah. Aku berusaha menandai jalan yang aku
lewati agar saat kembali aku tak tersesat, sampai akhirnya aku mendengar suara
anak-anak yang aku yakini seusiaku, tengah bermain-main. Aku menghampiri mereka
dan meminta agar aku boleh bermain bersama mereka. Namun mereka mengejekku,
dengan serapahan, bahkan ada di antara mereka yang menjorok-jorokkan kepalaku.
Mereka bernyanyi dengan sangat
serempak, mengatakan aku buta. Suara mereka semakin keras, dan semakin banyak
saja yang mendorong dan menjorokkan kepalaku. Sampai akhirnya ibu datang,
membawa aku untuk pulang. Sesampainya di rumah, ibu memeluk aku erat,
dengan tetes-tetes air dari matanya, dan meminta maaf padaku karena ia tak
dapat membuat aku bahagia. Setelah itu ia menidurkan aku di ranjang, sambil menasihati
aku agar aku tidak mengulangi pergi dari rumah lagi. Dan aku tertidur
pulas. Malam itulah, aku terdampar pada suatu tempat yang benar-benar
sepi, tanpa suara apa pun.
Di sana aku dapat melihat daun-daun
yang gugur. Aku melihat kota-kota yang hancur, rumah-rumah yang dindingnya
rubuh, namun tak aku temui seorang pun di sana. Aku mencoba mencari-cari
seseorang, hanya untuk sekadar bertanya apa yang sebenarnya baru terjadi, atau
setidaknya aku tahu di mana aku sedang terdampar. Aku berjalan menyusuri tanah
yang pecah-pecah, melewati rumah-rumah yang dindingnya rubuh. Cukup lama
aku mencari-cari, sampai pada sebuah sudut rumah yang dindingnya pada beberapa
bagian belum runtuh, aku menemukan seseorang. Ia berdiri dengan posisi
membelakangi aku, rambutnya yang panjang tergerai, dengan aroma wangi ribuan
bunga. Aku mendekatinya, mencoba bertanya apa yang sebenarnya terjadi atau
bertanya di negeri mana aku terdampar.
O, Tuhan. Entah karena apa,
tiba-tiba aku tak dapat mengeluarkan suara apapun. Aku hanya tergagap, aku
hanya tergagap. Tanpa menoleh, dalam posisi yang membelakangi aku, ia
berkata dengan sangat perlahan : Sayang, jika engkau memiliki mata, maka hal
yang menakutkan seperti ini akan engkau lihat setiap saat, di manapun engkau
berada. Kemudian ia menghilang begitu saja, dengan tetap tanpa
menoleh. Pagi-pagi, seusai salat subuh, aku menceritakan mimpi misterius
itu pada ibu. Ibu mengatakan bahwa itu hanya kembang tidur saja, tak perlu
dipikirkan berlarut-larut. *** MIMPI sialan itu selalu datang setiap
malam, dengan percakapan yang tidak adil, sebab hanya dia, sosok perempuan yang
membelakangi aku itu yang berbicara. Namun pada suatu malam, entah malam yang
keberapa, aku mampu berkata-kata, meski hanya sekadar bertanya siapa sebenarnya
kamu.
Dengan nada yang pelan, bahkan aku
hampir tak dapat mendengar, ia menjawab, bahwa ia adalah bidadari yang pernah
mengambil mataku. Aku mendekatinya, mencoba menyentuh pakaiannya yang
putih, dengan kibaran selendang dan kerudung yang teramat harum. Namun sebelum
hal itu berhasil aku lakukan, seperti biasanya, ia pergi begitu
saja. Mimpi-mimpi itu membuatku semakin gelisah, sebab selain ingin tahu
lebih banyak tentang apa dan bagaimana dunia luar, aku juga ingin tahu siapa
dia dan apa yang sebenarnya ia inginkan dariku, sehingga selalu mendamparkan
aku pada sebuah negeri yang hancur.
Mendamparkan aku pada sebuah ruang
yang selalu diselumuti pertanyaan yang menumpuk. Malam ini aku semakin
cemas, sebab bayangan perempuan yang mengaku bidadari itu selalu muncul, dengan
keadaan yang membelakangi aku. Dengan mengandai-andai, mengira-ngira, aku
mencoba membayangkan wajahnya. Seseorang yang bermata lentik, dengan tatapan
mata yang menyejukkan, serta senyuman yang selalu terkembang. Setelah itu maka
kami akan bercakap-cakap, berjalan bersama, sampai akhirnya aku terkejut dan
ketakutan, sebab ia kembali mendamparkan aku pada sebuah negeri yang
hancur. Aku berusaha untuk tidak tidur, sebab tidur sama saja dengan
berjalan menuju dunia teror.
Maka aku memutuskan berjalan keluar,
dengan tanda-tanda jalan yang setiap hari selalu aku tandai. Setelah
berjalan cukup jauh, aku mendengar sebuah suara yang tengah mengaji, terasa
tenang, kemudian aku mendekatinya. Aku mengucapkan salam, sebelum akhirnya
kepalaku membentur kaca jendela. Suara orang yang mengaji itu terdiam, kemudian
digantikan dengan sebuah suara kaki berjalan dan mendekatiku. Ia membimbing aku
masuk, dan menanyakan padaku tentang apa yang tengah melandaku, sebab katanya
ia tahu dari wajahku ada yang menggelisahkan. Aku pikir tak ada salahnya jika
aku menceritakan pada lelaki yang dari suaranya aku mengira telah berumur empat
puluhan tahun itu.
Lelaki itu meyakinkan aku bahwa tak
ada yang perlu dicemaskan, sebab tak ada mimpi yang dapat menyekap kita, selama
kita tahu bagaimana kita harus segera bangun. Maka aku mulai memejamkan mata,
dengan sebelumnya berdoa agar perempuan itu tak datang menggangguku, kalaupun
datang ia tak mendamparkan aku pada sebuah negeri yang hancur. Malam ini
aku sangat muak, sebab aku kembali terdampar di tempat sialan ini, di suatu
tempat yang tanahnya pecah-pecah, rumah-rumah yang dindingnya rubuh. Pada sudut
rumah yang sebagian dindingnya belum rubuh, aku kembali menemukan perempuan
berbaju putih itu.
Kali ini ia membalikkan badan,
menatapku dengan sendu, dan tersenyum. Pada tangannya yang mengembang, ia
membawa dua biji mata. Ia memberi isyarat agar aku mendekat padanya. Aku
berjalan mendekatinya. Namun lima langkah sebelum aku benar-benar berhadapan
dengannya, aku dikagetkan dengan suara-suara yang keluar dari tanah yang
pecah-pecah itu. Tepat di belakangku, mulai bermunculan ular berkepala manusia,
dengan mata yang merah menyala menatap garang. Aku mempercepat langkah
mendekati bidadari itu.
Ia mengulurkan dua biji mata itu
padaku, dengan suara pelan yang hampir tak terdengar : terpejamlah, saatnya aku
mengembalikan matamu. Ia kemudian terdiam sesaat, sepertinya setelah jeda yang
menggetarkan itu akan ada banyak hal yang ingin ia katakan padaku. Namun
sialan, aku terkejut oleh suara teriakan, membangunkan aku dari mimpi. Aku
terkejut bersamaan dengan gembira, sebab keajaiban telah datang : aku dapat
melihat. Aku dapat melihat! Namun tak jauh di depanku, seorang lelaki
bersarung, dengan tasbih di tangannya, tengah dililit ular-ular berkepala
manusia, dengan mata yang merah garang. Ular-ular itu, mata yang merah dan
garang itu, seperti ular-ular dalam negeri hancur di mana aku pernah terdampar.
Astaghfirullahalazim! Aku langsung menolongnya dan ular itu hilang seketika
saat aku ingin memukulnya, aku berterimakasih kepada Pak Ustadz begitupun ia
kepadaku. Aku pulang dengan rasa senang, ibuku mulai membuka pintu dan
meneriakkan namaku, dan aku berkata “Aku disini bu,” jawabanku lembut, “Oh
sayang, kamu kemana saja? Dan kenapa kamu tak membawa tongkatmu lagi?” katanya,
“Bu, aku bisa melihat bu. Aku bisa!” kataku,
....beberapa hari kemudian....
Aku dan ibu pergi kerumah nenek dan
kakek lagi, aku segera menceritakan segala yang aku alami dan kakek, nenek, dan
kedatanganku membuat kebahagiaan bersemi di keluarga itu lagi.
